Pages

Friday, December 23, 2011

Tiga Penyakit Kerap Diderita Kaum Ibu

KITA semua bisa lahir ke dunia lewat rahim ibu. Sudah selayaknya kita selalu peduli dan memerhatikan ibu, termasuk ancaman penyakit yang kerap dijumpai pada kaum ibu.

Dalam perjalanan hidup kaum ibu, ternyata ada penyakit-penyakit yang menjadi khas bagi mereka. Dr dr Ari F Syam SpPD-kGEH MMB FINASIM FACP dari bidang Ilmu Biomedik Universitas Indonesia mengurainya menjadi tiga penyakit, yakni kanker payudara, Systemic Lupus Eritematosus (SLE), dan Irritable Bowel Syndrome (IBS).


Kanker payudara
Pria  dan  wanita  mempunyai payudara, tetapi kanker payudara lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan pria. Kanker payudara merupakan salah satu  penyebab kematian terbesar bagi wanita.

Data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2007 menyebutkan, kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh rumah sakit di Indonesia (16,85 persen), disusul kanker leher rahim (11,78 persen). Angka kejadian kanker payudara saat ini diperkirakan 39 orang per 100 ribu penduduk pada 2008.

Seperti juga kanker lainnya, prinsip penanganan kanker semakin dini ditemukan semakin mudah untuk diobati. Pasalnya, organ payudara berada di luar dari bagian tubuh, tentunya deteksi dini akan lebih mudah untuk dilakukan antara lain dengan SADARI (periksa payudara sendiri).

Para wanita harus selalu ingat bahwa mereka berisiko mengalami benjolan di payudaranya, wanita mempunyai risiko 100 kali mempunyai kanker payudara dibandingkan pria.  Resiko lain yang juga harus diperhatikan untuk setiap wanita untuk terjadinya kanker payudara adalah riwayat keluarga yang memiliki riwayat tumor atau kanker payudara, usia di atas 45 tahun, tidak memiliki anak, kehamilan pertama di atas 30 tahun dan riwayat menstruasi pada umur kurang dari 12 tahun atau menopausenya panjang sampai di atas 55 tahun.

“Oleh karena itu, bagi seluruh ibu apalagi dengan risiko tinggi harus selalu ingat agar secara rutin  memeriksa sendiri apakah ada benjolan di payudaranya. Jika merasakan ada benjolan sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan benjolan yang terjadi tersebut,” papar Dr Air dalam keterangan persnya.

Systemic Lupus Eritematosus (SLE)
Penyakit ini akan dialami Sembilan kali lebih banyak pada wanita dibandingkan pria. Penyakit SLE terjadi pada 30-50 kasus per 100 ribu penduduk. Penyakit SLE merupakan penyakit autoimun dan terjadi pada wanita muda usia produktif.

Gejalanya ditandai dengan rambut rontok, gangguan pada kulit terutama wajah berupa merah-merah  kulit seperti kupu-kupu dan akan bertambah merah jika terpapar sinar matahari, nyeri-nyeri pada sendi dan otot, demam yang tidak terlalu tinggi, serta sariawan berulang. SLE bisa menyebabkan berbagai gangguan organ tubuh, antara lain kelainan darah, gangguan ginjal, gangguan jantung dan pembuluh darah, gangguan paru, gangguan pada organ-oragan pencernaan seperti usus, lambung dan liver, gangguan pada sistim saraf pusat serta  gangguan pada mata. Pasien yang mengalami SLE karena gangguan pada pembekuan darahnya juga bisa mengalami keguguran berulang.

“Mengingat komplikasi yang multiorgan, deteksi dini penyakit ini juga menjadi penting agar komplikasi yang bisa melibatkan banyak organ bisa dicegah. Bagi pasien yang sudah diketahui menderita SLE, dianjurkan untuk minum obat dan kontrol teratur agar komplikasi akibat penyakit SLE tidak terjadi,” jelasnya.

Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Penyakit ini diderita 10-15 persen penduduk dunia. Tidak ada perbedaan ras terhadap angka kejadian penyakit ini.

Laporan kejadian IBS pada wanita rata-rata 2-3 kali lebih banyak dibandingkan pria. Pasien dengan IBS biasanya datang dengan keluhan nyeri perut yang hilang timbul, disertai kembung, serta diare atau malah susah buang air besar. Nyeri perut biasanya berkurang setelah buang air besar (BAB).

Melalui pemeriksaan lebih lanjut, tidak ditemukan kelainan pada pasien atau tidak ditemukan kelainan organik. Banyak pasien datang ke dokter dengan perut kembung kadang disertai nyeri perut dan diare, terutama setelah mengonsumsi makanan tertentu, misal terlalu berlemak atau terlalu pedas. Pasien bisa saja tidak merasakan keluhan ini sebelumnya.

“Apakah penyakit IBS berbahaya sampai mengancam jiwa, jawabannya tidak. Tapi, penyakit IBS akan mengganggu aktivitas pasien yang mengalami masalah IBS. Keluhan kembung dan nyeri perut tentu akan mengurangi kualitas hidup seseorang karena bisa timbul setiap saat yang biasanya dicetuskan oleh makanan tertentu atau faktor stres,” urainya.

Faktor stres timbul bisa karena berbagai hal, seperti kurang tidur, terlalu lelah, masalah keluarga, sekolah, maupun masalah pekerjaan. Pada sebagian wanita, keluhan IBS tercetus saat menstruasi dan kehamilan.

Penanganan pasien biasanya dengan menghindari makanan tertentu, seperti makanan berlemak, makanan terlalu merangsang seperti makanan pedas, kopi, dan minuman bersoda.

“Obat-obat yang diberikan obat anticemas sesuai kebutuhan, obat antikeram (antispasmodik), antidiare, atau pencahar, tergantung keadaan BAB-nya. Probiotik juga bisa diberikan terutama untuk IBS dengan keluhan susah BAB. Dengan berobat yang teratur dan menghindari faktor pencetus kita dapat mengendalikan penyakit ini,” tutupnya.


0 comments:

Post a Comment

 
© 2010 mbekutuk | Blogger.com